IELTS Test, my Target and my Dream
Posted in Opini on 16. Aug, 2011
Speaking Class with Philip tadi menjadi akhir dari rangkaian 4 bulan kegiatan Pre-Departure English Training yang saya ikuti di Language Center Universitas Negeri Makassar. Kegiatan Pelatihan IELTS yang sepenuhnya dibiayai DIKTI ini, saya dan beberapa dosen dari PTN di Indonesia timur telah berlangsung dari akhir bulan April lalu. Kegiatan selama 4 bulan yang kami jalani dengan materi IELTS dari Reading, Listening, Writting & Speaking ini juga ditambah dengan Grammar & Culture Study.
Masih kebayang 4 bulan lalu saya bersama 7 teman dari Universitas Negeri Gorontalo tiba di Makassar. Setelah mendapatkan pengumuman dari DIKTI bahwa saya lulus pelatihan 4 bulan ini, ada perasaan senang karena sebelumnya saya baru saja menyelesaikan pelatihan yang sama di IDP Manado yang juga menjalani Test IELTS pertama. Kalau di Manado atas biaya langsung dari Kampus & waktunya hanya 3 Minggu. Namun waktu 3 minggu itu benar-benar mengenalkan saya tentang ‘Apa itu IELTS‘. Karena selama ini saya hanya familiar dengan TOEFL. Namun pelatihan yang pertama benar-benar menambah pengetahuan saya dalam menghadapi Test IELTS yang sebenarnya.
Dengan modal pengetahuan tentang strategi IELTS di Manado kemudian 2 minggu sesudahnya saya lulus kegiatan yang dibiayai DIKTI ini. Syukur Alhamdulillah, karena saya bisa memasang target untuk bisa mendapatkan Score Brand lebih dari Test yang pertama. Satu hal lagi yang saya inginkan adalah kemampuan dalam Listening, Writing, Reading dan Speaking yang akan sangat membantu sehubungan dengan rencana studi nantinya.
Sebulan pertama dari kegiatan pelatihan kami diberikan materi General, hal ini tentunya bagi saya pribadi makin memperdalam pengetahuan bahasa Inggris karena hal dasar ini belum saya dapatkan sebelumnya karena pengetahuan Bahasa Inggris banyak saya dapatkan secara otodidak. Saya harus akui materi yang paling saya sukai adalah Speaking, apalagi trainer kami adalah 3 orang Native yaitu 2 dari Amerika dan 1 dari British or tepatnya Edinbrugh. Komunikasi dengan penutur asli tentunya membuat kita lebih tahu how to pronounce karena langsung dari penutur asli. Namun kendala yang terbesar kami diawal adalah apabila yang mengajar kelas kami Philip. Karena dia sangat kental dengan English British dengan dialeg Scotland-nya maka kami yang selama ini terbiasa dengan American English harus memintanya mengulang pronounce yang diucapkan. Hal ini sangat menyenangkan kami rasakan.
Kelas Writing juga menjadi yang menyenangkan namun juga agak susah kami lakukan diawal. Namun karena pelatihan ini diajarkan bagaimana kami membuat ide dari satu tulisan, bagaimana menganalisa soal terutama untuk Writing Task 1, menyiapkan kata-kata baku yang biasa di gunakan untuk Task 1 & 2. Kelas Reading yang agak memusingkan kami diawal, namun kami mendapat share dari seorang dosen yang mempunyai pengalaman yang sama juga dalam Reading, yaitu dia merasa Reading adalah momok dari test IELTS. Namun strategi yang ditanamkan & dibagi adalah ‘menyadari kalo jawaban Reading test ada dalam bacaannya’. Maka setelahnya Reading agak sedikit mudah, namun untuk tipe soal NO, YES & NOT GIVEN tetap masuk kategori sulit
Untuk Listening, walaupun kadang trainingnya membawakan dengan menyenangkan melalui latihan-latihan namun kami tetap merasakan susah untuk menyesuaikan. Apalagi bila narator untuk soal Listening penutur asli dari Britain atau Scotland dengan dialeg kentalnya, waduh alamat tebak-tebakan jadinya. Hehehehe.
Namun semuanya telah selesai kami lakoni. Dengan lebih dari 5 kali progress IELTS test yang kami jalankan hampir tiap minggu maka minimal hal ini bisa menambah rasa percaya diri kami untuk menghadapi the Real IELTS test yang akan berlangsung 19 & 20 Agustus nanti. Ya, akhir minggu ini kami semua akan mengakhiri kegiatan ini dengan Test IELTS yang dilaksanakan langsung oleh IALF Bali. Bagi sebagian besar teman-teman ini kesempatan pertama mereka mengikuti IELTS, namun bagi saya sendiri berharap kesempatan kedua ini bisa memperbaiki nilai Test saya dari 5.5 April lalu menjadi (minimal) 6.5 nantinya, aminnn. Ini semua nantinya akan menjadi bekal saya untuk berburu beasiswa untuk studi lanjut. Semoga. Akhirnya, saatnya mempersiapkan lebih maksimal untuk 20 Agustus nanti, Bismillah.
Klik 


Semoga sesuai cita-cita, min 6.5