Optimisme : Saya dan Mahasiswa saya

Adalah mengajar dan bertemu mahasiswa adalah merupakan tugas saya sebagai Dosen. Awalnya kegiatan ini saya lakukan dengan standard saja: masuk kelas sesuai jadwal, memberikan materi, mereview materi, memberikan pertanyaan, menanyakan apa ada yang belum dimengerti, menyelenggarakan ujian dan mengumumkan hasil. Hal ini berlangsung cukup lama. Namun saya menemukan tidak adanya kedekatan antara saya sebagai dosen dengan Mahasiswa.

Berulang kali saya menemukan kesulitan dalam berinteraksi dengan mereka, hal ini menjadi PR bagi saya, padahal bertemu dengan mahasiswa adalah salah satu kebahagian bagi saya. Karena disini saya bisa berinteraksi langsung dengan mereka. Saya jadi ingat beberapa waktu yang lalu saya pernah bertemu dengan seorang Dosen senior di Universitas Airlangga Surabaya, dalam pertemuan itu banyak hal positif yang di share dalam pertemuan singkat kami. Satu hal yang saya garis bawahi adalah cara beliau memperlakukan Mahasiswa sebagai teman, dimana mengajak mahasiswa berbicara dengan mengenyampingkan batasan antara dosen dan mahasiswa. Dan masih banyak hal-hal positif yang saya ambil dari bincang-bincang singkat kami.

Singkat cerita, dari pertemuan itu, saya berfikir bahwa saya harus merubah presepsi ini dalam pengajaran. Karena saya jarang sekali bertemu dengan mahasiswa, maka interaksi di dalam kelas saya ingin mengutamakan kualitas pertemuan. Mekanisme pertemuan tatap muka yang biasanya saya buka langsung dengan materi, hal ini saya rubah dengan berinteraksi secara non formal dengan mereka maksimal 30 menit. Banyak hal yang bisa saya tanyakan kepada mereka, dari menanyakan khabar, menanyakan apa kegiatan mereka di weekend kemarin, kenapa mereka berpakaian warna ini hari ini, sampai pada ‘apakah ada yang ingin dishare hari ini?’.

Disisi lain, saya sering bercerita tentang pengalaman saya yang sering saya input-kan dalam kelas. Banyak hal, diantaranya travelling saya, berkenalan dengan orang-orang ‘hebat’ (menurut saya), cerita tentang inspirational stories dari orang-orang yang pernah saya kenal hingga pengalaman lucu yang pernah saya alami. Bahkan sering saya meminta mereka bercerita tentang permasalahan mereka dan kita carikan solusi di kelas.

Dari hal ini saya lebih banyak mengenal mereka in-personal dari pada nama. Misalnya Si Fauzi yang ternyata suka bernyanyi, Si Irawan yang cuek tapi ternyata briliant. Dan masih banyak lagi mahasiswa saya yang berkarakter dengan keunikannya masing-masing.

Saya jadi ingat beberapa saat lalu saya pernah memberikan tugas kepada mereka menulis dengan mengunakan bahasa inggris. Saya memahami mahasiswa saya bukan mahasiswa Bahasa Inggris dan saya memberikan kemudahan bagi mereka untuk mengunakan tools Google Translate. Struktur penulisan ilmiah saya berikan sebagai pengantar dan saya biarkan mereka mengekpresikan tulisan berdasarkan opini mereka masing-masing. Dan ternyata banyak yang memberikan tulisannya dengan beragam topik. Seperti biasa saya selalu meng-appreciate hasil karya mahasiswa saya dengan mengelompokkan dalam 3 kategori: Good, Very Good dan Excellent. Diluar prediksi saya salah satu kelas yang mendapatkan nilai Excellent adalah yang terkesan cuek di kelas.

Semalam saya sempat mendengarkan Pidato Rektor Universitas Paramadina Bapak Anies Baswedan dalam kegiatan ON|OFF minggu lalu tentang Sharing Optimism. Terbersit isi pidato yang menyemangati tentang semangat optimisme ingin saya share ke Mahasiswa saya, dan hari ini saya menyampaikan hal itu dalam opening kuliah saya. Banyak hal yang ingin saya ‘titip’ ke Mahasiswa saya, diantaranya membenahi rasa optimisme dalam diri mereka khususnya tangung jawab sebagai mahasiswa melihat keseharian mereka. Saat mereka dihadapkan pada kegiatan yang banyak dan rasa optimisme mereka berkurang, disinilah saatnya mereka merubah persepsi dari kesulitan menjadi tantangan. Saya berniat satu waktu akan memperdengarkan langsung pidato ini dan bisa berdiskusi dengan mereka. Satu hal yang saya inginkan adalah mahasiswa saya punya rasa percaya diri dan optimisme dalam keseharian mereka sebagai Mahasiswa.

Selamat Datang Optimisme!

4 Responses to “Optimisme : Saya dan Mahasiswa saya”

  1. jarwadi says:

    saya membaca pidato itu di blognya hanny, kemarin saya telat datang jadi kursi sudah terlanjur penuh. susah rasanya menyimak sambil berdiri di keriuhan :)

    • aguslahinta says:

      Sangat sangat Inspirasional banget isi Pidatonya Mas Jarwadi, saya dah download dan sering saya dengarkan saat lagi free atau pengen ‘tersemangati’.

  2. Goiq says:

    Saya sudah membayangkan punya dosen gaul seperti mas Agus pasti sangat menyenangkan. Dan dari ceritamu di Bali tempo hari saya bisa membayangkan kedekatan bapak dosen dengan mahasiswanya, sampai mereka selalu support kegiatan-kegiatan traveling pak dosennya :) . Luar biasa

Trackbacks/Pingbacks


Leave a Reply